Sabtu, 28 April 2012

Inovasi dalam Maicih: Gerbang Promosi Budaya Bandung


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

1.1.1.      Bandung sebagai Potensi Wisata Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia sehingga memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun internasional. Daya tarik pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada tempatnya, tetapi segala sesuatu yang terdapat di dalamnya.

Bandung adalah salah satu kota yang sedang mengalami perkembangan pesat pada bidang pariwisata, terutama pada wisata belanja dan wisata kuliner. Suhu Kota Bandung yang cukup sejuk, alam yang indah, dan pengelolaan pariwisata yang cukup baik menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Bandung. Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan luar Indonesia berdatangan ke Bandung untuk merasakan langsung suasana kota Bandung, berbelanja di Factory Outlet, atau mencicipi kuliner-kuliner khas Bandung. Oleh karena itu, Bandung saat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang paling digemari di Indonesia.

Perkembangan pariwisata Bandung ini tidak terlepas dari Bandung sebagai kota yang kreatif. Kota Bandung sering menjadi pelopor dari berbagai inovasi yang kemudian menyebar ke daerah-daerah lain. Inovasi ini terjadi dalam berbagai bidang dan biasanya dipelopori oleh para pemuda. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh warga Kota Bandung adalah pada bidang kuliner yang merupakan salah satu wujud kebudayaan.

1.1.2.      Inovasi Kuliner Kota Bandung sebagai Daya Tarik Wisata
Bandung memiliki kuliner yang sangat kaya dan beragam, dari mulai yang manis hingga yang pedas, dari mulai yang direbus hingga yang dipanggang, dari mulai makanan kecil hingga makanan berat. Makanan-makanan ini didukung oleh suasana Kota Bandung yang sejuk dan nyaman sehingga orang-orang dari berbagai daerah berdatangan untuk mencicipi langsung makanan-makanan tersebut. Berbagai kuliner Kota Bandung yang sudah sering diperbincangkan adalah peuyeum, brownies Amanda, batagor Kingsley, dan keripik Maicih.

Salah satu fenomena kuliner kota Bandung yang saat ini sedang muncul ke permukaan adalah keripik Maicih. Maicih adalah sebuah merk dari jajanan-jajanan pasar khas Tanah Sunda, seperti keripik singkong, seblak, gurilem, dan basreng. Saat ini Maicih begitu identik dengan Bandung sehingga menjadi oleh-oleh khas dari Bandung. Meskipun keripik Maicih terdapat di berbagai daerah di Indonesia selain di Bandung, konsumen tetap lebih suka membeli keripik Maicih langsung di Kota Bandung.

Inovasi yang dilakukan oleh Maicih terletak pada rasa, teknik pengemasan, dan teknik pemasaran. Maicih digemari bukan hanya oleh masyarakat Bandung melainkan juga masyarakat di seluruh Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya distributor atau yang mereka sebut dengan “jenderal” yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga Papua. Maicih telah menjadi salah satu makanan lokal yang menembus pasar nasional, bahkan internasional dengan tetap membawa identitas Sunda dan Bandung di dalam produknya.

Sebenarnya jajanan-jajanan pasar seperti keripik singkong, seblak, gurilem, dan basreng sudah ada sejak lama dan menjadi jajanan khas Tanah Sunda. Sebelumnya, jajanan-jajanan pasar ini terbatas pada ruang lingkup konsumen tertentu, khususnya anak-anak. Jenis makanan ini juga sebelumnya dijual di daerah-daerah Tanah Sunda selain Bandung, seperti Garut, Cililin, dan Tasikmalaya. Setelah diadakannya inovasi terhadap jajanan-jajanan pasar ini, pasar konsumen menjadi sangat luas baik dari segi tempat maupun usia. Nilai ekonomi dari makanan ini juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Produk Maicih dijual dengan harga Rp17.000,00 per bungkus sementara sebelumnya jajanan pasar dijual dengan harga berkisar Rp500,00 hingga Rp2.000,00 per bungkus.

Fenomena Maicih yang berawal dari Bandung hingga ke seluruh Indonesia saat ini sedang dalam wacana untuk diekspor ke luar negeri. Nama Maicih yang identik dengan orang Sunda pun menjadikan Maicih identik dengan Bandung. Namun, inovasi terhadap makanan lokal, khususnya Maicih, sebagai salah satu aspek yang membawa budaya Bandung ke luar dan menjadi salah satu promosi budaya masih perlu diteliti lebih lanjut.

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan yang telah diberikan sebelumnya pada subbab latar belakang, penulis merumuskan beberapa masalah yang akan menjadi fokus pada penulisan makalah ini:
1.      Bagaimana inovasi yang dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi terhadap makanan lokal khas Tanah Sunda?
2.      Bagaimana peranan inovasi terhadap makanan lokal, khususnya yang dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi berpotensi memperkuat ketahanan budaya dan sebagai salah satu promosi budaya, khususnya budaya Bandung?

1.3.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang sebelumnya telah dipaparkan, maka tujuan dan dari diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Membuktikan bahwa PT. Maicih Inti Sinergi melakukan inovasi terhadap makanan lokal khas Tanah Sunda.
2.      Membuktikan bahwa inovasi makanan lokal, khususnya yang dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi, berpotensi memperkuat ketahanan budaya dan menjadi suatu usaha promosi budaya, khususnya budaya Bandung.

1.4.Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif dalam suatu penelitian diperlukan untuk memahami suatu fenomena yang hasilnya dijelaskan secara deskriptif sesuai dengan konteksnya. Peneliti adalah instrumen utama pada penelitian ini sehingga peneliti haruslah seseorang atau sekelompok orang yang memang menaruh minat pada topik penelitian.

Tulisan yang ada pada makalah ini termasuk ke dalam jenis tulisan bahasan atau argumentasi. Sesuai dengan tujuan dari penulisan makalah yang telah dipaparkan sebelumnya, penulisan makalah dengan jenis bahasan merupakan jenis yang paling sesuai karena akan membuktikan hipotesis awal dari penulis. Rekomendasi dan saran akhirnya dirumuskan dengan melihat analisis-sintesis yang sebelumnya telah dilakukan.

1.4.1.      Teknik Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara acak pada beberapa masyarakat Bandung dan non-Bandung, wawancara dengan public relation dari PT. Maicih Inti Sinergi, wawancara dengan Pemerintah Daerah Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung, wawancara dengan dosen Sastra Sunda di Universitas Padjajaran selaku ahli kebudayaan Sunda, serta wawancara dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan penelitian ini. Studi pustaka dilakukan pada buku-buku yang berkaitan dengan kebudayaan dan wujud-wujud kebudayaan, terutama makanan. Buku-buku mengenai nilai-nilai kebudayaan Sunda, khususnya Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat juga menjadi bahan studi pustaka pada penelitian ini.

Penelitian lapangan menjadi inti dari pengambilan analisis-sintesis dari makalah ini. Pada tanggal 14 Maret 2012, peneliti melakukan wawancara langsung dengan public relation dari PT. Maicih Inti Sinergi, yaitu Reza Amriludwian, di Jalan Setia Budi, Bandung. Peneliti langsung menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini kepada Reza Amriludwian agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan.

Wawancara juga dilakukan dengan ahli kebudayaan Sunda dari Universitas Padjajaran bernama Taufik Ampera, Pemerintah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung bernama Drs. Hatta dan Rukmana Saputra, dan Pemerintah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Jawa Barat bernama Dra. Hj. Yullianingsih Yusuf. Wawancara dengan pemerintah terkait dilakukan pada tanggal 14 Maret 2012, sedangkan wawancara dengan dosen Sastra Sunda Universitas Padjajaran dilakukan pada tanggal 15 Maret 2012. Wawancara ini dilakukan untuk mengambil data yang terkait dengan Bandung dan budaya Sunda. Kenaikan wisatawan dan pengaruh dari Maicih terhadap hal tersebut menjadi salah satu hal yang ditanyakan langsung kepada pihak-pihak terkait.

Penyebaran kuisioner secara acak kepada 50 masyarakat Bandung dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai tanggapan masyarakat Bandung sendiri terhadap inovasi makanan lokal Maicih dan pengaruhnya terhadap pariwisata kota Bandung. Kuisioner disebarkan untuk mengambil opini publik Bandung berkaitan dengan hal yang diteliti untuk menghindari adanya pandangan subyektif dari peneliti.

Kuisioner juga disebarkan secara acak kepada 50 masyarakat luar Bandung untuk mengukur seberapa besar pengetahuan orang luar Bandung terhadap produk makanan lokal Maicih dan seberapa besar nilai budaya Bandung yang mereka lihat dari produk Maicih. Peneliti mengambil lingkungan Universitas Indonesia, Depok, sebagai wilayah penyebaran kuisioner dengan asumsi bahwa informan yang berada di lingkungan ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia karena Universitas Indonesia merupakan lingkungan pendidikan nasional.

Selain melakukan penelitian lapangan, peneliti juga melakukan studi pustaka pada buku-buku yang terkait dengan penelitian. Daftar buku yang dijadikan sebagai bahan studi pustaka akan diberikan pada bagian daftar pustaka makalah. Selain studi pustaka yang dilakukan pada buku-buku yang terkait, peneliti juga menelaah laman-laman website mengenai masalah terkait. Salah satu website yang memberikan informasi yang cukup banyak adalah website dari PT. Maicih Inti Sinergi sendiri, yaitu www.maicih.co.id.

Data yang telah terkumpul dianalisis untuk memenuhi tujuan awal dari diadakannya penelitian ini yaitu membuktikan bahwa inovasi makanan lokal berpotensi menjadi salah satu usaha promosi budaya. Sebelum membuktikan hal tersebut, diperlukan data mengenai makanan lokal Bandung, inovasi yang telah dilakukan terhadap makanan-makanan lokal tersebut, nilai kebudayaan yang terdapat di Bandung, dan promosi budaya yang ada di Bandung. Analisis-sintesis yang dilakukan akan menjadi dasar dari ditulisnya simpulan dan saran dari penulis. Hasil penelitian diharapkan dapat memenuhi tujuan awal dari penelitian dan memberikan sumbangan pemikiran kreatif untuk bangsa Indonesia.

1.5.Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun secara sistematis dan terdiri atas empat bab dengan rincian sebagai berikut. Bab pertama berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua memaparkan telaah pustaka, landasan teori, dan berbagai konsep yang relevan dengan rumusan masalah yang dikaji. Kota Bandung dengan berbagai potensinya dipaparkan pada bab ini, termasuk dengan inovasi makanan lokal yang sudah ada di Kota Bandung.
Bab ketiga pada makalah ini menjelaskan analisis dan sintesis yang telah dilakukan terhadap rumusan masalah yang telah diberikan pada bab pertama. Analisis dan sintesis diambil berdasarkan penelitian lapangan yang telah dilakukan penulis sehingga data yang diperoleh pun bersifat akurat. Analisis dan sintesis yang diberikan pada bab ini juga didukung oleh berbagai data yang diperoleh dari tinjauan pustaka.

Bab keempat yang merupakan bab terakhir dari bab ini berisi simpulan dan rekomendasi dari penulis berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab ketiga. Rekomendasi yang diberikan kemudian diharapkan dapat menjadi suatu solusi kreatif untuk berbagai permasalah serupa yang ada di Indonesia sehingga makalah ini dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa Indonesia.


BAB 2
POTENSI KULINER LOKAL BANDUNG SEBAGAI PRODUK BUDAYA

2.1.            Makanan dalam Perspektif Budaya

Secara etimologi, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal” (Koentjaraningrat, 2002: 181). Oleh karena itu, budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Menurut Djoko Widagdho dalam Ilmu Budaya Dasar, kebudayaan yang adalah juga kultur berasal dari kata colere dalam bahasa Latin yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Arti ini kemudian berkembang menjadi culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Widagdho, 1991:18). Kultur menjadi sangat luas maknanya karena ternyata hampir segala daya dan aktivitas yang dilakukan manusia memang dilakukan untuk mengolah dan mengubah alam dalam rangka mempertahankan hidup.

Serupa dengan pengertian sebelumnya, Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi menyampaikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Melalui definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan karena hanya sedikit tindakan manusia yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, misalnya tindakan berupa naluri dan refleks. Di luar itu, dibutuhkan proses pembelajaran dalam melakukan sesuatu.

Kultur dan kebudayaan tentunya bukan hanya sebuah konsep namun juga memiliki suatu wujud. J.J. Honigmann pada bukunya The World of Man (dalam Koentjaraningrat, 2002:186) mengungkapkan ada tiga gejala kebudayan, yaitu ideas, activities, dan artifacts. Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan berupa ide-ide dan gagasan-gagasan manusia sedangkan wujud kedua adalah tindakan berpola dari manusia yang disebut dengan sistem sosial. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut dengan kebudayaan fisik dan bersifat paling konkret karena dapat dilihat dan disentuh. Wujud artifacts ini dapat dilihat dari berbagai benda, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, pakaian, bangunan, dan termasuk makanan.

Kuliner atau makanan adalah salah satu wujud dari kebudayaan yang sangat akrab dengan manusia. Makanan adalah kebutuhan primer manusia sehingga manusia tidak pernah dapat lepas dari makanan. Makanan juga mencirikan kehidupan suatu kelompok masyarakat sehingga ada ungkapan “kita adalah apa yang kita makan”. Berdasarkan Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia terbitan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (2004), pada awalnya tujuan manusia makan adalah memenuhi kebutuhan yang paling utama, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup, menguatkan tubuh, menjaga kesehatan dan kepentingan metabolisme tubuh, dan sebagainya. Seiring dengan berkembangnya peradaban dan kebudayaan manusia, berkembang pula teknik pengolahan makanan. Perbedaan potensi alam yang ada di setiap wilayah menjadikan teknik pengolahan makanan pada setiap daerah juga menjadi berbeda-beda. Makanan yang berbeda antara satu wilayah dan wilayah yang lain lama-kelamaan menjadi suatu ciri khas yang hanya dimiliki oleh wilayah tersebut.

Makanan bukan sekadar sesuatu yang dimakan manusia, namun menjadi sebuah produk dari kebudayaan manusia dan merefleksikan suatu konsep kebudayaan. Anna Meigs (1997: 105) dalam artikelnya “Food as a Cultural Contruction” pada buku Food and Culture mengungkapkan “Food can be considered as part of material culture rather than as a natural object in that, like pottery, it is the product of individual labor and reflects cultural conception and design”. Melalui pemaparan Anna Meigs tersebut, dapat kita lihat bahwa makanan memiliki nilai budaya yang sangat penting dalam suatu kelompok masyarakat. Makanan yang ada pada suatu daerah berbeda dengan daerah yang lain sehingga membawa budaya dari masing-masing daerah asalnya. Sayangnya, banyak yang belum menyadari potensi makanan lokal yang ada di setiap daerah.

Dalam konteks budaya, makanan menjadi masalah selera dan bersifat lintas budaya yang memanjakan manusia modern (Adimihardja, 2005: 24). Selera makan berhubungan dengan rasa, lidah, dan aroma. Selera makan ini berbeda antara suatu individu atau kelompok dan individu atau kelompok yang lain. Selera makan dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya faktor lingkungan dan potensi hayati yang ada di dalamnya. Saat ini lebih banyak lagi hal yang memengaruhi selera, termasuk arus informasi dan fenomena globalisasi. Kenyataannya, arus globalisasi ternyata membawa masyarakat ke dalam selera makan yang mempertimbangkan persoalan gaya hidup dan prestise.

2.2.            Potensi Kuliner Kota Bandung

Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibu kota dari provinsi Jawa Barat. Jawa Barat sering diidentikan dengan suku Sunda meskipun tidak seluruh Jawa Barat merupakan Tataran Priangan atau Tanah Sunda. Berdasarkan Peta Budaya Provinsi Jawa Barat terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, yang termasuk ke dalam wilayah Priangan adalah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar. Kota Bandung menjadi salah satu perwakilan wilayah Priangan yang paling menonjol karena perannya sebagai kota metropolitan terbesar di Jawa Barat.

Kota Bandung adalah pusat pemerintahan dan pusat perdagangan di wilayah Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, Bandung terletak di tengah-tengah Provinsi Jawa Barat. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan sehingga seakan membentuk sebuah mangkuk besar. Iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembap dan sejuk dengan suhu rata-rata 23,5oC. Suhu yang cukup sejuk di kota ini menjadi salah satu faktor yang menjadikan Kota Bandung laris sebagai kota wisata. Saat ini Bandung terkenal sebagai salah satu kota dengan wisata belanja dan wisata kuliner yang menarik. Wisatawan dari berbagai kota di Indonesia berdatangan ke Bandung untuk menikmati suasana kota ini.

Sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, Bandung juga memiliki makanan khas. Makanan khas suatu daerah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor lingkungan berperan cukup besar terhadap keberadaan keragaman bahan pangan yang didasarkan pada keragaman hayati yang tumbuh di suatu daerah tertentu (Adimihardja, 2005: 25). Bandung memiliki alam yang subur sehingga memiliki keanekaraman hayati yang cukup tinggi. Hal ini tentunya berpengaruh langsung dengan keanekaragaman jenis pangan yang ada di Bandung. Meskipun beraneka ragam, ternyata yang disebut dengan “makan” oleh orang Bandung hanyalah “makan nasi”. Hal ini terlihat pada tulisan dari Adimihardja dalam buku Makanan dalam Khazanah Budaya.
Dalam pemahaman orang Sunda, yang disebut dengan “makan” adalah “makan nasi” dengan hidangan lainnya yang berfungsi sebagai penyedap rasa nasi. Jenis makanan di luar nasi seringkali disebut juga sebagai makanan cangkarang-bongkang, yaitu makanan yang dianggap sekadar sebagai penyedap saja, penyelang atau pengganjel, yakni makanan sementara untuk sekadar menghilangkan rasa lapar. Oleh karena itu, jenis makanan tersebut dianggap berupa makanan kecil untuk ruab raeb atau ruham-rahem, ngemil. (Adimihardja, 2005:26-27)

Jenis makanan yang akan dibahas pada makalah ini adalah makanan yang disebut sebagai makanan kecil oleh masyarakat Sunda, yaitu keripik singkong pedas, kerupuk gurilem, kerupuk seblak, dan basreng. Masyarakat Sunda sering menyebutnya dengan sebutan jajanan pasar. Jajanan pasar ini sudah lama dikonsumsi dan diproduksi oleh masyarakat Tanah Sunda dan terbuat dari komoditi yang tersedia berlimpah di sana.

Melalui namanya, kita dapat langsung mengetahui definisi dari keripik singkong pedas. Keripik ini terbuat dari irisan singkong yang digoreng dan diberi rasa pedas. Lain halnya dengan nama kerupuk gurilem, kerupuk seblak, dan basreng yang cukup asing. Kerupuk gurilem adalah kudapan yang berbentuk silinder yang dibumbui dengan penyedap rasa seperti vetsin, serbuk cabe rawit kering, garam, merica, bawang goreng, dan lain-lain[1]. Gurilem berasal dari Cililin dan merupakan akronim dari gurih dan pelem. Pelem berasal dari bahasa Sunda yang berarti enak. Kerupuk seblak adalah makanan yang terbuat dari kerupuk rebus yang dicampur dengan racikan bumbu pedas[2]. Basreng sendiri adalah abreviasi dari baso goreng. Basreng merupakan kudapan yang terbuat dari ikan tenggiri dengan proses penjemuran sehingga menjadi keripik. Basreng biasanya beraroma khas daun jeruk[3].

Makanan sebagai suatu produk budaya memiliki lima unsur penting di dalamnya, yaitu ide awal, cara memasak, konsumennya, produsennya, dan bentuk makanan itu sendiri. Makanan yang akan dibahas pada makalah ini adalah jajanan-jajanan pasar Tanah Sunda yaitu keripik singkong, basreng, seblak, dan gurilem. Keempat jajanan pasar ini memiliki lima unsur tersebut. Ide awal dari diciptakannya jenis makanan ini adalah untuk memanfaatkan hasil alam yang ada di Tanah Sunda.

Keripik singkong, basreng, seblak, dan gurilem terbuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh. Keripik singkong terbuat dari singkong, basreng terbuat dari baso ikan tenggiri, seblak dan gurilem terbuat dari tepung aci. Cara memasaknya pun hampir sama antara satu dengan yang lain yaitu dengan dibentuk tipis-tipis kemudian digoreng. Pada awalnya produsen dari jajanan-jajanan pasar ini adalah produsen rumah tangga yang membuat jajanan-jajanan tersebut di rumah masing-masing dalam skala yang tidak terlalu besar. Konsumen dari jajanan-jajanan ini adalah anak-anak sekolah. Bentuk dari keripik singkong, gurilem, seblak, dan basreng ini adalah makanan kecil atau sering disebut juga dengan kudapan.

2.3.            Inovasi Kuliner Lokal Bandung

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-4, inovasi adalah (1) pemasukan atau pengenalan hal-hal baru; pembaharuan (2) penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Ilmu antropologi juga mendefinisikan inovasi seperti kutipan berikut yang diambil dari buku Pengantar Ilmu Antropologi.
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru. Dengan demikian inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi (Koentjaraningrat, 2002: 256)
Dari kutipan tersebut terlihat bahwa suatu inovasi biasanya bukan menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan sebuah proses panjang perkembangan dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi merupakan salah satu bagian dari proses evolusi dengan bantuan manusia. Dalam proses evolusi, seringkali manusia menjadi pihak yang pasif, namun dengan adanya inovasi, manusia menjadi pihak yang aktif sehingga mempercepat terjadinya suatu proses evolusi.

Inovasi dapat dilakukan dalam berbagai hal, termasuk dalam wujud-wujud kebudayaan. Yang menjadi perbincangan adalah dampak yang terjadi akibat inovasi-inovasi yang dilakukan terhadap suatu wujud kebudayaan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa makanan merupakan salah satu wujud kebudayaan, maka inovasi pun dapat dilakukan terhadap makanan. Menurut Munawar Cholil selaku dosen bahasa Sunda di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, inovasi sangat penting untuk dilakukan karena salah satu cara agar suatu kebudayaan tidak ditinggalkan, yaitu dengan tetap mengikuti perkembangan. Inovasi yang dilakukan oleh masyarakat Bandung merupakan salah satu cara agar kebudayaan Bandung tetap mengikuti perkembangan.

Sejauh ini sudah banyak inovasi makanan yang dilakukan oleh masyarakat Bandung. Misalnya saja, brownies Amanda yang sudah terkenal ke berbagai daerah di Indonesia. Brownies ini lain dari biasanya karena cara memasaknya adalah dengan dikukus, sementara brownies pada umumnya dimasak dengan cara dipanggang. Inovasi makanan lain yang terkenal dari Bandung adalah batagor yang merupakan akronim dari baso tahu goreng. Batagor ini kemudian menjadi lebih terkenal lagi dengan adanya suatu perusahaan makanan yang membuka restoran khusus batagor dengan nama Kingsley. Walaupun harganya relatif mahal, batagor Kingsley sangat diminati oleh masyarakat Bandung dan luar Bandung. Contoh lainnya lagi adalah tahu isi pedas yang diberi merk tahu Jeletot. Tahu isi ini berisi sayur atau daging dan memiliki rasa yang sangat pedas. Saat ini, tahu Jeletot telah dijual di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Depok dan Jakarta.

Dari berbagai inovasi makanan yang dilakukan oleh warga Bandung tersebut, ada beberapa inovasi yang dilakukan terhadap makanan yang memang berasal dari Bandung atau Tanah Sunda. Namun, ada juga inovasi yang dilakukan terhadap makanan yang bukan berasal dari Tanah Sunda. Tahu Jeletot merupakan salah satu inovasi yang dilakukan terhadap makanan khas Tanah Sunda karena bahan bakunya memang berasal dari alam Tanah Sunda. Ada pula inovasi terhadap makanan yang bukan merupakan khas Tanah Sunda, misalnya brownies Amanda.

Inovasi terhadap makanan yang masih membawa nilai budaya Bandung biasanya membawa misi budaya di dalamnya, namun ada juga yang dilakukan murni untuk tujuan ekonomi. Bagaimanapun bentuk inovasi yang dilakukan, inovasi-inovasi ini telah menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pariwisata Kota Bandung.

Inovasi makanan yang akan menjadi fokus pada makalah ini adalah inovasi pada keripik Maicih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, inovasi yang dilakukan oleh Maicih berbeda dengan inovasi yang pernah ada sebelumnya. Keunikan-keunikan dari inovasi Maicih akan dipaparkan pada bab selanjutnya.


BAB 3
INOVASI MAICIH SEBAGAI POTENSI PROMOSI BUDAYA BANDUNG

3.1. Maicih sebagai Salah Satu Inovasi Kuliner Tanah Sunda

Makanan sebagai salah satu wujud budaya juga mengalami perubahan karena budaya yang bersifat dinamis. Perubahan ini ternyata bisa juga dinyatakan sebagai inovasi karena adanya suatu proses pembaruan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan sengaja. Inovasi pada makanan sebagai wujud budaya yang akan dibahas pada makalah ini adalah produk makanan Maicih.

Maicih adalah merk dari jajanan-jajanan pasar khas Sunda, seperti keripik, singkong pedas, kerupuk gurilem, kerupuk seblak, dan basreng yang saat ini sedang laris di berbagai daerah di Indonesia. Maicih menjadi begitu laris dan diminati karena inovasi-inovasi yang dilakukan pemiliknya, seperti cara penjualan, pengemasan, pemasaran dan adanya tingkat kepedasan pada produknya.

Menurut pencetusnya, Reza Nurhilman, Maicih merupakan kata nyeleneh yang berarti sebuah dompet berukuran kecil berbentuk setengah lingkaran dengan resleting yang biasa digunakan untuk menyimpan koin-koin. Meskipun begitu, Icih sendiri adalah salah satu nama khas orang Sunda sehingga Maicih akan mengingatkan kita kepada seorang emak bernama Icih yang berasal dari Tanah Sunda.

Usaha Maicih dimulai sejak 29 Juni 2010 oleh Reza Nurhilman yang akrab disapa AXL. Sebelumnya, Reza Nurhilman sudah menemukan produsen dari jajanan pasar tersebut sejak tahun 2008 di daerah Cimahi, Jawa Barat namun jajanan tersebut tidak memiliki merk. Saat itu pula, Reza Nurhilman hanya berperan sebagai konsumen setia karena ia memang merasakan bahwa jajanan pasar tersebut memiliki cita rasa yang lain dari jajanan pasar yang dijual di warung-warung. Setelah itu, karena merasa bahwa jajanan pasar ini akan laku apabila dijual, Reza Nurhilman mengawali penjualan Maicih kepada teman-teman SMA dan kampusnya. Saat itu, jajanan-jajanan pasar tersebut hanya dibungkus dalam plastik bening tanpa merk apa pun.

Reza Nurhilman resmi menamai produknya dengan Maicih pada tahun 2010. Maicih memiliki tingkat kepedasan yang berbeda antara satu level dan level lainnya. Semakin tinggi level kepedasan suatu produk Maicih maka semakin pedas pula rasanya. Saat ini, Maicih menjual keripik level 1, 3, 5, dan 10. Inovasi juga dilakukan pada cara pengemasan produk Maicih. Kalau sebelumnya jajanan-jajanan pasar dibungkus dalam plastik bening yang kecil, produk Maicih dibungkus dalam sebuah kantong kertas atau paper bag berwarna coklat dengan isi keripik yang cukup banyak. Teknik pengemasan ini menjadikan produk Maicih terlihat lebih rapi dan pada akhirnya mengantarkan Maicih kepada nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam perkembangannya, Reza Nurhilman menemukan cara yang unik dalam bidang pemasaran yaitu dengan memberikan julukan-julukan tertentu kepada setiap pihak yang terlibat dalam pemasaran Maicih. Pemilik dari Maicih, yaitu Reza Nurhilman sendiri, disebut dengan “presiden” sedangkan para distributor disebut dengan “jenderal”. Kegiatan berjualan yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain pun disebut dengan “gentayangan”.

Selain keunikan pada julukan-julukan tersebut, Reza Nurhilman memanfaatkan teknologi dalam teknik pemasaran produknya. Posisi “jenderal” yang sedang “gentayangan” diinformasikan melalui media sosial twitter melalui akun @infomaicih. Media sosial twitter muncul pada tahun 2009 dan memiliki banyak pengguna di Indonesia hingga saat ini. Reza Nurhilman memandang twitter sebagai salah satu cara yang baik untuk mempromosikan keunikan produknya.

Hal lain yang menjadi keunikan dari produk Maicih adalah terbatasnya jumlah dan wilayah penjualan produk Maicih. Keterbatasan produk dan usaha yang harus dilakukan konsumen dalam memperoleh produk Maicih rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi produk ini. Konsumen tidak dapat menemukan produk Maicih di tempat-tempat umum seperti toko dan pusat perbelanjaan. Hal ini ternyata berpengaruh besar terhadap diperbincangkannya produk ini dalam masyarakat. Posisi “jenderal” menjadi salah satu topik yang diperbincangkan dan secara tidak langsung menjadi promosi produk yang dilakukan oleh konsumen sendiri.

Keunikan-keunikan dari produk Maicih ini telah mengantarkan Maicih menjadi salah satu kuliner yang banyak diperbincangkan media. Produk Maicih memperoleh lebih banyak lagi promosi melalui program-program televisi dan berbagai media cetak yang meliputnya. Pasar konsumennya berkembang menjadi tidak hanya pengguna twitter yang kebanyakan adalah anak muda, namun juga lebih luas ke penonton televisi dan pembaca media cetak yang mencakup berbagai usia dan berbagai domisili.

Saat ini, Maicih sudah berbadan hukum dengan nama PT. Maicih Inti Sinergi dan memproduksi berbagai cemilan khas Bandung seperti keripik singkong pedas, kerupuk gurilem, kerupuk seblak, dan basreng. Maicih juga telah melengkapi perusahaannya dengan hal-hal yang berhubungan dengan perlindungan konsumen seperti sertifikat halal dan nomor kemasan yang berasal dari dinas kesehatan. Maicih telah mengangkat jajanan pasar yang biasanya hanya dimakan oleh anak-anak kecil dan terbatas di Tanah Priangan menjadi sebuah kuliner berstandar nasional yang dikonsumsi oleh berbagai usia.

Reza Nurhilman sebagai pencetus Maicih sendiri ternyata masih berstatus mahasiswa di Universitas Maranatha, Bandung. Inovasi yang dilakukannya telah membawa nama Reza Nurhilman ke tingkat nasional bahkan internasional. Kolega-kolega dari Reza Nurhilman juga dipilih langsung oleh Reza Nurhilman, biasanya merupakan rekan-rekan terdekat. Kebanyakan koleganya juga masih berstatus mahasiswa, misalnya Reza Amriludwian yang adalah salah satu teman dekatnya di Universitas Maranatha, Bandung.

“Jenderal” Maicih yang tersebar hampir di seluruh Indonesia juga kebanyakan merupakan pemuda. Pemilihan “jenderal” dilakukan secara terbuka dengan pengiriman CV ke bagian SDM PT. Maicih Inti Sinergi. Pelamar kemudian harus datang langsung ke Bandung dan melewati proses wawancara. Pelamar yang berhasil melewati proses wawancara kemudian akan diberi pelatihan motivasi dan pemasaran di Bandung sebelum akhirnya melakukan penjualan Maicih di kotanya masing-masing. Melalui pemaparan tersebut dapat kita lihat bersama bahwa peran pemuda dalam hal inovasi menjadi sangat besar.

Sebenarnya, peran pemuda dalam berbagai bidang telah dikaji dalam berbagai ilmu. Salah satunya terlihat pada kutipan dari buku Budaya Konsumen berikut ini.
Dalam dinamika sistem seni budaya kontemporer, media semakin memainkan peran penting. Saat ini anak muda memegang peran penting sebagai produsen sekaligus audiens. Dalam kapasitas ini anak muda dapat dipandang sebagai perantara kunci dalam perkembangan budaya konsumen saat ini. (hlm. 298)
Kaum muda ternyata memegang peranan yang penting pada masa kebudayaan kontemporer saat ini, bukan hanya sebagai produsen namun juga sebagai audiens. Penulis bahkan memandang anak muda sebagai perantara kunci dalam perkembangan budaya konsumen. Maicih yang diproduksi oleh anak muda tadinya hanya memiliki konsumen dalam ruang lingkup anak muda. Saat ini, konsumen dari produk Maicih tidak hanya berasal dari kaum muda namun berasal dari segala usia. Terlihat jelas bahwa anak muda menjadi pionir perihal Maicih.

Dra. Hj. Yullianingsih Yusuf dari Kasi Jarahnitra Bidang Kebudayaan Disparbud Jawa Barat mengungkapkan bahwa salah satu tugas Bidang Kebudayaan adalah melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan nilai-nilai kebudayaan. Tugas yang berat untuk melakukan pengembangan dan pemanfaatan dengan tetap menjaga kelestarian dari suatu produk budaya. Dalam hal ini, PT. Maicih Inti Sinergi sudah melakukan ketiga hal tersebut sekaligus. Produk Maicih tetap melestarikan jajanan-jajanan pasar Tanah Sunda dengan melakukan pengembangan dalam berbagai hal sekaligus juga memanfaatkan nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.


3.2. Maicih sebagai Potensi Promosi Budaya Bandung

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan Reza Amriludwian selaku public relation PT. Maicih Inti Sinergi, penjualan produk Maicih telah mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Hal ini terbukti dengan distributor produk Maicih yang disebut dengan “jenderal” yang telah tersebar di semua pulau di Indonesia kecuali Maluku.

Penjualan ke luar negeri juga telah dimulai melalui rekan-rekan dari PT. Maicih Inti Sinergi yang bepergian ke luar negeri. Ke depannya, pemasaran yang dilakukan di luar negeri akan berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia. PT. Maicih mungkin tidak akan menempatkan “jenderal” melainkan memasukkan produknya ke retail atau pengecer yang ada. Menurut Reza Amriludwian, penggunaan sistem “jenderal” di luar negeri akan sulit karena tidak tersedianya lahan parkir di pinggir jalan seperti yang terdapat di Indonesia. Meskipun begitu, PT. Maicih Inti Sinergi tetap akan mempertahankan nama-nama produknya dengan nama jajanan pasar Sunda yaitu keripik singkong, gurilem, seblak, dan basreng ke mana pun produk itu dijual.

Kebijakan dari PT. Maicih Inti Sinergi untuk tetap menggunakan nama-nama jajanan pasar Tanah Sunda dalam produknya adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk tetap melestarikan jajanan pasar Tanah Sunda. Reza Amriludwian sendiri menyadari bahwa produk Maicih membawa budaya Sunda, terutama Bandung. Hal ini terlihat dari angka penjualan yang lebih tinggi di Bandung dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain meskipun konsumen tidak hanya berasal dari Bandung. Rupanya konsumen lebih suka membeli produk Maicih langsung di Bandung meskipun produk Maicih telah dijual oleh “jenderal” di masing-masing daerah. Hal ini juga menjadikan produk Maicih menjadi oleh-oleh khas Bandung.

PT. Maicih Inti Sinergi sendiri telah menyadari perannya sebagai produk yang membawa nama budaya Bandung. Menurut Reza Amriludwian, Maicih menunjukkan kepeduliannya terhadap kebudayaan Sunda atau Bandung dengan menjadi sponsor pada banyak event kebudayaan di Bandung. Selain itu, ke depannya Maicih memiliki wacana untuk membangun Kafe Maicih di berbagai kota di Indonesia diawali dari Bandung. Komitmen Maicih ke depannya adalah untuk menjadi salah satu kuliner nasional yang membawa identitas Sunda ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Menurut analisis dan wawancara yang dilakukan peneliti kepada beberapa ahli kebudayaan Sunda, Maicih memang merupakan suatu inovasi kuliner yang membawa nilai-nilai kebudayaan Bandung. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain nama Maicih sendiri yang identik dengan nama khas orang Sunda, produk Maicih yang merupakan jajanan pasar Tanah Sunda yang telah lama ada, pembuat produk Maicih yang berasal dari Bandung, dan tempat berkembangnya produk Maicih yaitu Bandung. Menurut Dra. Hj. Yullianingsih Yusuf, produk Maicih juga merupakan salah satu bentuk pelestarian bahasa karena penggunaan bahasa Sunda dan nama khas Sunda pada produknya.


BAB 4
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan

Makanan merupakan suatu hal yang sangat dekat dengan kehidupan setiap makhluk hidup. Sebagai makhluk berbudaya, manusia memiliki perbedaan dengan hewan perihal makanan. Makanan dapat mencerminkan suatu peradaban manusia dalam suatu masa. Makanan-makanan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang tentu memiliki suatu nilai kebudayaan luhur yang harus tetap dilestarikan, namun makanan-makanan tersebut juga harus dapat dikembangkan agar tetap dapat dinikmati oleh manusia saat ini.

Bentuk inovasi yang dapat dilakukan terhadap makanan sangat beragam. Inovasi yang telah dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi yaitu inovasi pada masalah rasa, pengemasan, dan teknik pemasaran. Inovasi rasa pada makanan adalah hal yang sangat penting karena seiring perkembangan zaman, berkembang pula selera suatu kelompok masyarakat terhadap cita rasa makanan. Pengemasan produk makanan juga menjadi suatu faktor yang sangat penting. Hal ini diterapkan begitu baik oleh banyak negara di dunia, seperti Jepang, yang makanan-makanannya telah mendunia karena faktor pengemasan yang baik.

Inovasi yang tidak kalah penting adalah inovasi yang dilakukan terhadap teknik pemasaran suatu produk makanan. Teknik pemasaran juga mempengaruhi eksistensi suatu produk makanan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa saat ini banyak hal yang mempengaruhi selera. Eksistensi suatu makanan juga dapat mempengaruhi faktor selera. Saat ini banyak orang yang membeli suatu produk makanan karena eksistensi dari produk tersebut sehingga mempengaruhi prestise dari konsumennya.

Kolaborasi yang baik antara inovasi, rasa, dan teknik pemasaran yang menarik akan menghasilkan sebuah produk yang akan diterima dengan baik di pasar. Hal yang telah dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi menjadi salah satu contoh yang konkret. Cara yang telah dilakukan oleh PT. Maicih Inti Sinergi seharusnya dapat diterapkan oleh berbagai daerah di Indonesia pada berbagai produk budayanya, terutama makanan. Makanan adalah salah satu produk budaya yang paling mudah mendunia karena membawa identitas suatu kebudayaan sekaligus dapat dinikmati secara universal.

Orang-orang yang bekerja di balik Maicih kebanyakan adalah pemuda yang masih berusia sekitar 20 tahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa peran pemuda dalam berbagai hal tidak boleh dianggap remeh. Maicih dapat mencapai omset yang begitu besar dan membawa nilai budaya Bandung hingga dunia internasional hingga saat ini. Segala pencapaian itu dimulai dari ide seorang mahasiswa yang tadinya hanya bertindak sebagai konsumen. Sebuah ide pemuda yang mungkin tadinya terlihat biasa saja ternyata dapat berkembang begitu pesat saat ide tersebut direalisasikan dengan usaha dan keyakinan yang besar. Pemberdayaan pemuda dalam hal kebudayaan menjadi sangat penting saat ini.

Riset yang dilakukan oleh Nielsen kepada 502 responden pengguna aktif internet pada September hingga Oktober 2008 menunjukkan hampir semua responden lebih menyukai kuliner lokal[4]. Berdasarkan hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa peluang bagi kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia sangat besar untuk menjadi menu andalan bagi berbagai bisnis kuliner baik retail maupun restoran. Hal ini harusnya disambut baik oleh berbagai pihak, baik pemerhati kebudayaan maupun para pengusaha karena rupanya bisnis dan kebudayaan dapat berjalan sejalan dengan adanya fakta ini.


4.2. Saran dan Rekomendasi

Sebagai mahasiswa, banyak yang bisa dilakukan dalam rangka mendukung nilai budaya sebagai potensi promosi budaya. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah memberi penyuluhan atau workshop kepada para pengusaha makanan lokal mengenai teknik pengemasan dan prosedur yang berkaitan dengan keamanan makanan agar produk mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Penyuluhan atau workshop tidak dilakukan hanya satu kali melainkan secara berkesinambungan sehingga dapat perkembangan dari para pengusaha makanan lokal yang sudah dilatih dapat terus dipantau.

Pemberdayaan pemuda dalam hal pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan makanan sebagai produk budaya juga harus selalu ditingkatkan dan didukung oleh berbagai pihak. Melalui produk Maicih, dapat dilihat bahwa pemuda berperan sangat besar terhadap inovasi produk budaya yang tetap memperhatikan kelestarian produk budaya itu sendiri. Pemuda yang adalah salah satu agen perubahan dan calon penerus bangsa harus terus didayagunakan perihal pelestarian, pengembangan, dan pemanfaat produk kebudayaan.

Pemerintah sebagai pihak yang memiliki kewenangan tinggi dalam melakukan pelestarian dan pengembangan suatu nilai budaya harus mau bekerja lebih keras lagi. Pada permasalahan ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata seharusnya tidak bekerja sendirian. Dibutuhkan suatu kolaborasi yang baik dengan dinas-dinas lain, terutama Dinas Industri dan Perdagangan dalam melestarikan dan mengembangkan suatu nilai budaya sebagai potensi promosi budaya.

Baik pemerintah maupun pihak swasta harus bisa lebih gencar lagi memperhatikan berbagai peluang untuk mempromosikan produk kebudayaan berupa makanan dan mengupayakan inovasi tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial kebudayaan yang ada pada makanan tersebut. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa mereka juga harus mau melibatkan pemuda dalam berbagai program yang dijalankan.



[1] Vedd. “Kurutuk: Apa sih Kerupuk Gurilem Itu?”. http://kurutuk.blogspot.com/2011/06/apa-sih-kerupuk-gurilem-itu.html (11 Maret 2012)
[2] Avitia Nurmatari, “Seblak Pedas Menggugah Selera”. http://bandung.detik.com/read/2010/08/24/131143/1426641/679/seblak-pedas-menggugah-selera (11 Maret 2012)
[4] Purwiyanto Hariyadi, “Kulinologi: Teknologi Pangan dan Seni Kuliner Indonesia”, (Jakarta, 2009), hlm. 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar